Image Alt
Tata Kelola Perusahaan

Manajemen Risiko

  /  Manajemen Risiko

Manajemen Risiko

 

Integrated Risk Management System di SIG

Dengan berkembangnya skala usaha maupun operasional SIG, maka semakin banyak tantangan yang dihadapi oleh SIG yang meliputi ketepatan proses pengambilan keputusan investasi, pengawasan pelaksanaan kegiatan investasi, pengelolaan Anak Perusahaan, perubahan lingkungan bisnis, dan kepatuhan terhadap berbagai peraturan perundangan yang berlaku. Untuk itu pengelolaan secara efektif dibutuhkan agar SIG dapat  mewujudkan  sasaran-sasarannya dan mempertahankan tingkat pertumbuhan yang optimal sekaligus berkesinambungan (optimum and sustainable growth) sehingga praktik pengelolaan perusahaan secara profesional dan bertanggung jawab dilakukan dengan menerapkan Integrated Risk Management (IRM) system.

IRM merupakan pengelolaan manajemen risiko yang terintergasi dan menjadi bagian utama dalam penerapan sistem manajemen di perusahaan, yang mencakup Manajemen Mutu, Manajemen Energi, Manajemen K3 & Lingkungan, Manajemen Anti Peyuapan dan system manajemen lain yang diterapkan dan dikembangkan diseluruh unit kerja SIG untuk mewujudkan strategic and operational excellence. Melalui penerapan IRM, proses pengelolaan risiko dilakukan secara holistic sehingga dapat membantu dalam mengantisipasi potensi risiko yang berdampak negatif, serta dapat membuka peluang yang memberikan nilai tambah (creating value) bagi SIG. Penerapan IRM di SIG digambarkan sebagaimana diagram berikut:

 

Kebijakan Penerapan Integrated Risk Management di SIG

Komitmen SIG dalam penerapan manajemen risiko secara terintegrasi tercermin dalam kebijakan manajemen risiko sebagai berikut:

  1. Menetapkan Risk Appetite, Risk Tolerance, dan Risk Treatment di SIG serta memastikan Anak Perusahaan telah menetapkan Risk Appetite, Risk Tolerance, dan Risk Treatment yang selaras dengan Kebijakan SIG.
  2. Menetapkan target Risk Maturity Index (RMI) atau target kinerja penerapan Manajemen Risiko di SIG dan Anak Perusahaan yang akan disampaikan secara terpisah sesuai evaluasi masing-masing Anak Perusahaan.
  3. Menetapkan risiko korporat di SIG dan mengelola risiko operasional di seluruh unit bisnis SIG serta memastikan Anak Perusahaan telah mengelola risiko korporat dan risiko operasionalnya.
  4. Menetapkan kerangka kerja Manajemen Risiko di SIG sesuai ISO 31000:2018.
  5. Memastikan penerapan budaya sadar risiko dan tata kelola Manajemen Risiko di seluruh unit bisnis SIG dan Anak Perusahaan.
  6. Mengembangkan Sistem Manajemen Risiko yang terintegrasi di SIG dan memastikan penerapan Sistem Manajemen Risiko oleh Anak Perusahaan.
  7. Mengkoordinasikan penerapan Manajemen Risiko SIG dan Anak Perusahaan telah dilaksanakan sesuai ISO 31000:2018.
  8. Melaksanakan dan mengkoordinir penyusunan Kajian Risiko dalam rangka mendukung pelaksanaan strategi pengembangan bisnis SIG.
  9. Memastikan pengambilan keputusan Manajemen telah mempertimbangkan aspek Manajemen Risiko dan mitigasi.
  10. Memastikan penerapan Business Continuity Management System (BCMS) di unit bisnis SIG untuk menjamin keberlangsungan usaha SIG.

 

Komitmen manajemen dalam penerapan manajemen risiko juga ditetapkan di Anak perusahaan, terutama Anak Perusahaan Persemenan. Saat ini Anak Perusahaan Persemenan SIG secara konsisten menerapkan manajemen risiko. Secara bertahap penerapan manajemen risiko juga akan di implementasikan ke Anak perusahaan Non Persemenan.

 

Struktur Manajemen Risiko

Sejalan dengan proses transformasi SIG, dilakukan penguatan fungsi dan struktur organisasi manajemen risiko di SIG dengan membentuk Grup Head Enterprise Risk Management (BOD-1) yang berada dibawah langsung Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko. Group Head ERM membawahi 2 Departemen yaitu Departemen Enterprise  Risk Management (ERM) dan Departement Enterprise Risk Management Policy & Excelllent (ERM PE).  Dalam menjalankan tugas pokok fungsi personil di Grup Head ERM telah memiliki sertifikasi di bidang manajemen risiko, yaitu ERMCP (Enterprise Risk Management Certified Professional), ERMAP (Enterprise Risk Management Associate Professional), dan CRP (Certified Risk Professional).

Dalam rangka membangun kapabilitas manajemen risiko, SIG menggunakan pendekatan Three Lines of Defence,  yang membedakan antara fungsi-fungsi bisnis sebagai fungsi-fungsi pemilik risiko (risk owner) terhadap fungsi-fungsi yang menangani risiko (risk officer), dan antara fungsi-fungsi yang mengawasi risiko (risk control) dengan fungsi-fungsi yang menyediakan pemastian independen (independent assurance). Yaitu bahwa Unit kerja berperan sebagai Risk Owner, Group Head ERM berperan sebagai Enterprise Risk Officer, dan Dewan Komisaris dan Komite Strategi, Manajemen Risiko dan Investasi (Komite SMRI) berperan sebagai Risk Control serta Internal audit sebagai pihak independen assurance, sebagaimana gambar berikut:

 

Risiko Korporat

Profil risiko SIG dan mitigasinya adalah sebagai berikut :

No  Jenis Risiko | Risk Type  Penanganan Risiko | Risk Mitigation
1 Persaingan bisnis Transformasi startegi marketing SIG untuk memenangkan persaingan.
2 Pengembangan Usaha

·       Pengembangan advanced CAPEX management.

·       Penyelarasan seluruh proses bisnis dan sistem di SIG group wide.

3 Kenaikan harga perolehan energi

·       Menjaga kesinambungan pasokan bahan bakar melalui sourcing dan pemetaan supply.

·       Riset dan konversi penggunaan batu bara ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan memiliki ketersediaan jangka panjang.

4 Kredit Optimalsisasi financial management perusahaan.
5 Perubahan Regulasi Advokasi dan  konsultasi atas rencana perubahan kebijakan pemerintah yang terkait dengan perusahaan.
6 Sustainability ESG (Environment, Social & Governance)

·       Raw material and fuel cost reduction program.

·       Riset penurunan emisi yang dihasilkan dari proses produksi.

·       Riset sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan memiliki ketersediaan  jangka panjang.

 

Berdasarkan profil risiko tersebut, tampak bahwa perseroan memberikan perhatian pada pengelolaan sustainability (ESG), terutama pada aspek perubahan iklim, dimana hal tersebut nampak pada langkah-langkah mitigasi yang dilakukan dalam penanganan risiko antara lain pengembangan raw material dan alternatif fuel yang ramah lingkungan serta pelaksanaan riset untuk penurunan emisi.

 

Risiko Perubahan Iklim (Climate Change Risk) dan Risiko Pengelolaan Air (Water Security Risk)

Terkait dengan pengelolaan risiko perubahan iklim, SIG berkomitmen untuk mendukung TCFD (Task Force on Climate-related Financial Disclosure), dengan memberikan informasi kepada investor dan pemangku kepentingan tentang bagaimana Perusahaan membangun ketahanan terhadap risiko iklim, sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul.

SIG secara transparan melakukan pengungkapan atas aspek keuangan dari potensi risiko dan peluang terkait dengan perubahan iklim. SIG melakukan pengungkapan informasi terkait risiko iklim (climate risk) dan risiko pengelolaan air (water securityrisk) melalui platform CDP. Pengelolaan risiko iklim (climate risk) dan risiko pengelolaan air (water security risk) dilakukan dengan melakukan pengendalian (control) dan mitigasi risiko (risk mitigation) berdasarkan inisiatif-inisiatif yang dijalankan, yaitu sebagai berikut:

  • Risk dan Opportunity Terkait Climate Risk
Value Chain Process Risk Type & Risk Driver Primary Potential Financial Impact Risk Response
Direct Operation Emerging regulation – Carbon pricing mechanisms Increase direct costs response on the risk is based on the strategic initiative to reduce carbon emission by the usage of alternative fuel and raw material, application of renewable energy, etc.
Upstream Chronic physical – changes in perception patterns and extreme variability in weather patterns Increase direct costs, raw material with higher water content will need more fuel (higher cost & emission) to achieve higher temperature to dry the raw mix before entering the combustion process in kiln Capital expenditure for installing biodrying facility
Downstream Chronic physical – Changes in precipitation patterns and extreme variability in weather patterns Increased indirect (operating) costs, uncertain weather could affect the sea transportation of products Sea transport insurance

 

Value Chain Process Opportunity Type & Opportunity Driver Primary Potential Financial Impact Opportunity Description
Downstream Products and services – Development of new products or services through R&D and innovation Increased revenues through access to new and emerging markets Green label cement (PowerPro) & concrete (Speedcrete, ThruCrete)
Direct operations Energy source – Resource substitutes/diversification Returns on investment in low-emission technology Waste management from Nathabumi
Direct operations Energy source – Access to new assets and locations needing insurance coverage Returns on investment in low-emission technology Development of Solar Panel as Energy Source

 

 

  • Opportunity Terkait Water Security Risk
Opportunity Type & Opportunity Driver Opportunity Description
Efficiency – Improved water efficiency in operations Since the acquisition of Lafarge-Holcim Indonesia, there are knowleges obtained  within the group both explicit, implicit, and tacit knowledge. By acquiring these knowledges, a potential of business process improvement and synergies among the groups were implemented. Since there are no significant problem within water resources and related operation, it has not been a focus in operational synergies within the group. But with more cement plants and varied environmental characteristic as a benchmark within the group, a standard process to implement the most efficient water management might be developed.
Products and services – Increased sales of existing products/services With the vision of Indonesia as the main market of SIG products & solution, there are still a lot of infrastructure to be built to support the country’s effort to become one of the leading nation di the regional. As an archipelagic country, there are more specific products needed to be developed to be more resilient to water and sea damage as more ports are being built to support increasing industrial estates along the coastal area. Moreover with the success of Suramadu Sea Bridge and Patimban Port, there are more potential above sea infrastructure is being researched that needs development of specific products.

 

Evaluasi Penerapan Manajemen Risiko

Untuk peningkatan berkelanjutan terhadap penerapan manajemen risiko di SIG, dilakukan evaluasi dan penyempurnaan berkelanjutan terhadap pelaksanaan manajemen risiko (Risk Maturity Index) dengan hasil sebagai berikut:

Tahun Risk Maturity Index (RMI) Assessor RMI
2009 3,39 BPKP Provinsi Jawa Timur
2011 3,48 BPKP Provinsi Jawa Timur
2013 3,7 BPKP Provinsi Jawa Timur
2015 3,9 PT Interlink Technologi Indonesia
2017 4,02 PT Interlink Technologi Indonesia
2018 3,7 PT Interlink Technologi Indonesia
2019 3,71 PT Jagad Prima Mandiri
2021 3,85 PT Pratama Indomitra Konsultan

 

Penilaian Risk Maturity Level tersebut juga telah dilakukan secara konsisten di anak perusahaan SIG yang bergerak di bidang persemenan.

 

Pernyataan Direksi dan/atau Dewan Komisaris atas Kecukupan Sistem Manajemen Risiko SIG

Penerapan manajemen risiko merupakan bagian integral dari seluruh proses bisnis dan elemen Perseroan. Direksi menetapkan Kebijakan, Pedoman dan Prosedur Manajemen Risiko yang terintegrasi mengacu pada persyataran Internasional yaitu ISO 31000:2018 sebagai komitmen dan panduan penerapan manajemen risiko di SIG. Dalam melakukan pengambilan keputusan operasional maupun investasi, Direksi menjadikan risiko sebagai pertimbangan. Penerapan manajemen risiko secara konsisten dilakukan review dan pengembangan guna memastikan penerapannya dilakukan secara efektif dan effisien oleh seluruh pemangku kepentingan.