/  News   /  Semua Diawali dengan Perubahan
Food Waste Image Banner

Semua Diawali dengan Perubahan

Mahatma Gandhi pernah berucap, “Bila kita bisa memulai perubahan dalam diri kita, maka dunia pun akan ikut berubah.” Dalam ucapannya, Gandhi ingin menularkan pemahaman bahwa transformasi sosial dan perubahan dunia harus dimulai dari masing-masing individu. Prinsip yang sama juga berlaku terhadap cara kita menyikapi perubahan iklim dan isu-isu keberlanjutan.

Selama pandemi, sebagian besar dari kita memiliki keleluasaan untuk bekerja dari rumah, serta mengisolasi diri dari segala kegiatan di luar rumah. Itu artinya rumah tidak hanya jadi tempat istirahat dan bermukim, tapi juga tempat belajar, bermain dan berkarya. Di awal tahun 2021, SIG menggagas sebuah inisiatif sederhana bertajuk #MulaiBerubahDariRumah. dengan tujuan mendorong masyarakat untuk mulai mawas terhadap kebiasaan sehari-hari yang bermanfaat untuk kemudian hari.

#MulaiBerubahDariRumah memanggil masyarakat untuk menerapkan perubahan dari cakupan terkecil: diri sendiri, keluarga dan rumah tinggal. Pesan ini disampaikan lewat kanal media sosial selama satu bulan penuh danberhasil mendulang ribuan respon dari masyarakat umum yang ikut berpartisipasi menjawab tantangan perubahan gaya hidup. Partisipan pun dengan penuh semangat mengunggah dokumentasi aktivitas perubahan yang bisa dilakukan dari rumah, seperti mendaur ulang sampah, menghemat listrik, hingga bisnis rumahan ramah lingkungan.

Buat Apa Berubah
Inisiatif untuk mengubah gaya hidup kita demi menciptakan masa depan yang lebih baik adalah wujud komitmen SIG untuk terus menerapkan prinsip keberlanjutan dalam setiap aktivitas usaha dan kemasyarakatan. Perlu disadari bahwa tanpa prinsip keberlanjutan, sumber daya alam akan terus berkurang hingga mengakibatkan bencana, baik yang sifatnya dipicu oleh alam, maupun kondisi ekonomi.

Sebagai perusahaan solusi bangunan, SIG punya tujuan besar untuk mengupayakan pembangunan masa depan yang lebih baik dengan menghadirkan solusi keberlanjutan. Lebih dari sekadar misi, prinsip keberlanjutan ini juga diturunkan ke setiap jenjang karyawan lewat semangat dan motto perusahaan, Go Beyond Next. Motto ini diharapkan dapat memicu inspirasi komunitas dan masyarakat umum untuk terus beradaptasi dan berinovasi lewat aksi nyata.

Lantas, aksi nyata macam apa yang bisa dilakukan dari rumah?

Sampah makanan dan keseharian kita
Menanggapi inisiatif #MulaiBerubahDariRumah seorang partisipan mengunggah kegiatan mengelola sampah organik di rumah tinggalnya. @theres_story mendokumentasikan cara sederhana untuk memulai perubahan dari rumah dengan cara mengolah enzim sampah organik menjadi pembersih, pestisida ataupun pupuk alami. Eco enzyme adalah hasil fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran, gula dan air. Aktivitas ini sangat mudah dilakukan secara mandiri dan tidak menghabiskan banyak waktu, namun manfaatnya sangat besar bagi lingkungan.

Seperti yang sudah sering kita dengar, salah satu masalah lingkungan yang paling mengkhawatirkan — namun kadang terlupakan — adalah limbah makanan. Ayo, coba cek piring makan kita hari ini. Adakah makanan yang tersisa di piring? Potongan bawang putih, batang kangkung, atau sejumput nasi dan saus sambal yang tidak habis? Kalau sampai tiap hari seperti itu, bayangkan berapa banyak makanan yang berakhir di tempat sampah.

Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan Kementan yang terbit di akhir 2019, setiap orang di Indonesia menghasilkan kurang lebih 300kg sampah makanan dalam satu tahun. Lebih mengagetkan lagi, data yang diterbitkan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2020 menunjukkan 39,8% sampah yang dihasilkan masyarakat Indonesia berupa sisa makanan.

Dalam konteks pandemi, selama 1,5 tahun terakhir terjadi peningkatan yang sangat siginifikan pada pola berbelanja online, termasuk di antaranya jasa pesan-antar makanan dan sembako. Menurut riset yang dilakukan oleh Katadata Insight Center (KIC) selama pandemi ada lonjakan sebesar 44% terkait pengguna baru layanan pesan-antar makanan di kalangan Generasi Z. Alasannya macam-macam: praktis, tidak sempat memasak, dan bosan terhadap makanan rumah.

Masalahnya, seringkali kita memesan makanan lebih banyak dari yang dibutuhkan; dan tidak jarang juga kita memesan makanan yang ternyata cita rasanya tidak sesuai dengan yang kita harapkan — hingga akhirnya mereka berakhir di tong sampah. Kebiasaan ini harus diubah agar tidak menimbulkan masalah baru di masa pandemi yang sudah sulit ini.

Habiskan. Kurangi. Olah
Ada dua hal yang perlu kita lakukan untuk mengubah kebiasaan membuang makanan. Pertama, ubah cara pikir kita tentang porsi makanan. Selalu mawas diri terhadap porsi makanan yang kita pesan atau ambil; dan sebisa mungkin disesuaikan dengan kebutuhan (secukupnya), lalu habiskan. Kedua, olah bahan makanan semaksimal mungkin. Misalnya saat mengolah kangkung, pilih batang ujung dan daunnya untuk ditumis, lalu sisihkan batang pangkal yang agak alot untuk dibuat campuran smoothie. Jika memang masih ada makanan yang tersisa, maka olah sampah makanan tersebut agar tidak terbuang sia-sia; salah satunya dengan melakukan apa yang dicontohkan @theres_story dengan mengupayakan praktik eco enzyme. Nah, dengan begitu sudah tidak ada alasan lagi buat kita untuk membuang makanan. Yuk deh, demi kelestarian bumi dan masa depan yang lebih baik, kita terapkan #MulaiBerubahDariRumah dari sekarang!